Mendaki ungaran bersama relawan asal negara canada dari UPGRIS

Cerita perjalanan pendakian naik turun tanpa nge camp, atau biasa di sebut tek tok.


Hari jumat malam pada tanggal 14 Oktober 2017.  jam 23.00 WIB.
Saya ber Inisiatif berangkat menuju ke bascamp mawar dari kos saya di pedurungan kota semarang, mengendarai sepeda motor sendirian jam 00.00 harus sudah sampai sana karena menunggu rombongan 3 orang bule teman saya asal Canada semua yang bernama. Wynton, Amanda, nikita.


Begitu saya sampai sampai basecamp mawar pendakian gunung ungaran, beberapa menit sambil menunggu kedatangan mereka duduk manis sambil ngobrol para sakpala di basecamp mawar.


salah satu jalur umumnya dan favorit para pendaki memulai perjalanan kaki menapak gunung ungaran, karena terdapat berbagai fasilitas yang cukup lengkap dan memadai.
Beberapa menit kemudian mereka datang karena mereka bertiga dari kota semarang naik taksi bluebird,

saya sudah menebak bahwa mereka telah sampai dengan mobil, begitu melihat mereka aku berjalan menuju loket menegur sapa dan saya senang sekali, berjumpa mereka. Bagaimana saya kenal mereka? Karena salah satu dari mereka ada teman saya yang dulu pernah aku temani pendakian.


Setelah selesai membayar tiket dengan harga yang terjangkau Cuma 5000 rupiah per orang, baik WNI atau WNA, dan tiket parkir kendaraan bermotor 3000 rupiah. Mereka bilang “waw it’s not expensive”.
Mereka bilang ternyata tiket masuk tidak mahal, kemudian setelah membayar tiket, kami berjalan sambil ngobrol, sebelumnya di whatsapp sudah banyak ngobrol tentang persiapan, melihat mereka antusias dan bersemangat berjalan, lalu berhenti sejenak di warung mbok sum atau mas ambon,


warung baris kedua langganan saya, di sana berhenti menghangatkan tubuh sembari menikmati kopi dan teh, karena saya tau mereka menyukai the dan kopi aku bawa ke tempat tersebut.
Berhenti di warung beberapa menit, kemudian melanjutkan perjalanan jam 01.00 WIB. Hari sabtu.


Nah pada saat perjalanan, jalan mereka sangat asyik, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat, ritme langkah kaki pas dengan moment. Sepanjang jalan tentunya gelap, mereka sambil menyalakan senter, di sepanjang jalan pendakian gunung ungaran jalanya pada saat itu masih baik, karena tracking tidak terlalu basah, dan tidak terlalu kering berdebu, karena musimnya lembab,

beruntungnya sepanjang tracking dari start sampai puncak tracking tidak ada yang licin, padahal di prediksi cuaca menunjukan hujan badai, ternyata segala puji nikmat allah Alhamdulillah, tidak ada cuaca buruk, cerah, ada rembulan yang terang menyinari perjalanan kami.

Aku yang mimpin perjalanan, Amanda di belakangku langkah kakinya yang baik, berbeda dengan nikita dan wynton, nikita agak lambat karena berat badan yang agak berisi, mungkin kali ya, hahaha.
Dan wynton lebih lambat mungkin karena dia takut dengan berbagai hal, seperti takut terpeleset dan gelap, semua langkah kaki itu tidak masalah, itu hal wajar, setiap seseorang pasti ada kelebihan kekurangan, jadi saya maklumi saja.


Baru seperempat perjalanan sudah meminta istirahat, yang mereka lakukan hanyalah berisirahat sambil berdiri dan minum, kemudian lanjut perjalanan lagi, saya piker mereka melakukan tracking yang sangat baik, mereka tidak terlalu banyak istirahat, mungkin mereka sudah latihan jogging, pada sebelum pendakian saya menyarankan mereka agar melakukan olahraga.


Setelah pos 1 lewat dan istirahat, di samping perjalanan setelah bascamp, terdapat sebuah jurang di kanan jalan, tapi tak usah kawatir karena jalan cukup lebar dan cukup aman, kemudian begitu sampai sungai sesudah pos 1, mereka sangat senang melihat sungai dan merasakan kesegaran air yang cukup dingin, hanya beberapa detik saja berhenti disana. Lalu lanjut lagi di tracking mulai menanjak mereka mulai berkurang kekuatanya, hahaha aku bilang, ini masih belum seberapa, dan ini baru permulaan pendakian, berbeda dengan jalan yang hamper sampai puncak yang banyak batu besar,

begitu sampai pos 2, belok kiri, bukan kenanan yang mana kea rah promasan malah kejauhan muter dan tentunya mengeluarkan uang tiket 2500 rupiah per orang. Belok kiri melewati pos 2 tanpa istirahat disana, lanjut. Melewati jalan zig zag, naik semakin naik dan lebih cenderung ke datar, katakanlah bonus. Kabut mulai tebal, menyelimuti perjalanan kami, hal itu tidak menghalangi kami untuk beristirahat.


Begitu sampai pos 3, pos terakhir. Kami semua menawarkan mereka untuk beristirahat, lalu mereka benar2 mengingikan istirahat, sambil ngobrol apa yang mereka bawa, haha tentu mereka bawa banyak makanan. Di tempat peristirahatan shelter beratap material seng dan penyangga kayu, cukup nyaman buat istirahat, ditambah kursi panjang dari batang pohon.

Setelah berisitirahat sangat lama disitu, sampai saya merasa bergetar kedinginan kami menyarankan melanjutkan perjalanan. Aku bilang kurang lebih satu jam akan sampai, mereka tambah senang, we almost done in a few around 1 hours. Semakin semangat jalan semakin naik, bebatuan besar besar, mereka semakin semangat tapi semakin hati-hati.


Jalan bebatuan besar mampu di lewati, mereka terus bertanya, berapa lama lagi kita sampai, sampai berkali kali bertanya. 30 menit akan sampai lagi. Mereka terus bertanya lagi melewati jalan kanan atau kiri, sebenarnya jalan sama aja tapi tingkat kemudahan berbeda, aku selalu memberikan pendapat terbaik bagi mereka supaya lebih mudah naik, dengan kemandirian mereka, tidak mau di bantu dengan mengulurkan tanganku, mereka mampu melewati semua rintangan.


Begitu sampai puncak pada jam 04.00 WIB. Aku mendahului 10 meter dari jangkau mereka memberikan berita bahwa sudah sampai puncak, waw mereka melambaikan tangan mengayunkan eksprei berhasil sampai puncak, walaupun kabut, kami sampai puncak tetap semangat, dan ngobrol tertawa. Sambil menunggu satu jam kedinginan, dengan kabut yang tebal, di puncak sangat sepi, hanya ada 4 tenda mereka semua sudah tidur nampaknya.
Teman2ku sambil istirahat duduk sambil makan biscuit dan roti, kami semua bergetar kedinginan, tapi itu wajar, tidak terlalu dingin. Satu jam kemudian kami melihat siluet pada jam setengah lima, dengan takjub kamin melihat langsung berdiri menghadap ke timur, kabut yang tebal mendadak menghilang dan memperlihatkan keindahan menyambut matahari terbit atau sunrise





Menyambut hangatnya mentari membuat kami semakin semangat mengusir ngantuk dan dingin, cuaca yang baik, pada saat diatas pukul 5 ke tas sehingga kami bisa melihat semua gunung yang di jawa tengah, seperti gunung lawu, Muria, merbabu, merapi, Slamet, sindoro, sumbing.


Berikut video pendek foto2 perjalanan kami.


Begitu jam 6 pagi kami memutuskan untuk turun dan turunya memakan waktu yang lebih cepat.


Tak disangka cuma membutuhkan waktu 2 jam an, padahal naik 3 jam an.


2 komentar:

  1. Baca ini jadi pengen naik gunung ungaran lagi, tapi apa daya badan udah segede gaban wkwkwk. Mantab mas, turunnya lewat jalur naik atau gedongsongo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ayoo om martin naik gunung. Sama om cus lagi.hehe

      Hapus